Selasa, 17 April 2012

KONSEP KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


A.   PENGERTIAN
1.      Volume dan distribusi cairan tubuh
a.       Volume cairan tubuh
Total jumlah volume cairan tubuh (total body water-TBW) kira-kira 60 % dari berat badan pria dan 50 % dari berat badan wanita. Jumlah volume ini tergantung pada kandungan lemak badan dan usia. Lemak jaringan sangat sedikit menyimpan cairan, dimana lemak pada wanita lebih banyak dari pria sehingga jumlah volume cairan lebih rendah dari pria. Usia juga berpengaruh terhadap TBW dimana makin tua usia makin sedikit kandungan airnya. Sebagai contoh, bayi baru lahir TBW-nya 70-80 % dari BB, usia 1 tahun 60 % dari BB, usia pubertas sampai dengan 39 tahun untuk pria 60 % dari BB dan untuk wanita 52 % dari BB, usia 40-60 tahun untuk pria 55 % dari BB dan wanita 47 % dari BB, sedangkan pada usia diatas 60 tahun untuk pria 52 % dari BB dan wanita 46 % dari BB.
b.      Distribusi cairan
Cairan tubuh didistribusikan di antara dua kompartemen yaitu pada intraseluler dan ekstraseluler. Cairan intraseluler kira-kira 2/3 atau 40 % dari BB, sedangkan cairan ekstraseluler 20 % dari BB, cairan ini terdiri atas plasma (cairan intravaskuler) 5 %, cairan interstisial (cairan di sekitar tubuh seperti limfe) 10-15 % dan transeluler (misalnya, cairan serebrospinalis, sinovia, cairan dalam peritonium, cairan dalam rongga mata, dll ) 1-3 %.
2.      Fungsi cairan
a.       Mempertahankan panas tubuh dan pengaturan temperatur tubuh
b.  Transport nutrien ke sel
c.   Transport hasil sisa metabolisme
d.  Transport hormon
e.   Pelumas antar organ
f.   Mempertahankan tekanan hidrostatik dalam sistem kardiovaskuler
3.      Keseimbangan cairan
Keseimbangan cairan ditentukan oleh intake atau masukan cairan dan pengeluaran cairan. Pemasukan cairan berasal dari minuman dan makanan. Kebutuhan cairan setiap hari antara 1.800-2.500 ml/hari. Sekitar 1.200 ml berasal dari minuman dan 1.000 ml dari makanan. Sedangkan pengeluaran cairan melalui ginjal dalam bentuk urine 1.200 – 1.500 ml/hari, feses 100 ml, paru-paru 300-500 ml dan kulit 600-800 ml.

4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
a.    Usia
   Perbedaan usia menentukan luas permukaan tubuh serta aktivitas organ
b.    Temperatur
  Temperatur yang tinggi menyebabkan proses pengeluaran cairan melalui keringat cukup banyak
c.    Diet
     Apabila kekurangan nutrien, tubuh akan memecah cadangan makanan yang tersimpan di dalamnya
d.   Stres
Peningkatan produksi ADH dapat meningkatkan metabolisme sehingga mengakibatkan terjadinya glikosis otot.
e.    Sakit
  Banyak sel yang rusak, untuk memperbaiki sel yang rusak dibutuhkan adanya proses pemenuhan kebutuhan cairan yang cukup

5.      Pergerakan cairan tubuh
Mekanisme pergerakan cairan tubuh melalui tiga proses, yaitu :
a.       Difusi : merupakan proses dimana partikel yang terdapat dalam cairan bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan. Cairan dan elektrolit didifusikan sampai menenambus membran sel. Kecepatan difusi dipengaruhi oleh ukuran molekul, konsenrasi larutan, dan temperatur.
b.      Osmosis : merupakan bergeraknya pelarut bersih seperti air, melalui membran semipermeabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke konsentrasi yang lebih tinggi yang sifatnya menarik.
c.       Transpor aktif : partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi karena adanya daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.
6.      Pengaturan keseimbangan cairan
a.       Rasa dahaga
Mekanisme rasa dahaga:
Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan renin, yang pada akhirnya menimbulkan produksi angiotensin II yang dapat merangsang hipotalamus untuk melepaskan substrat neural yang bertangguang jawab terhadap sensasi haus.
Osmoreseptor di hipotalamus, mendeteksi peningkatan tekanan osmotik dan mengaktivasi jaringan saraf yang dapat mengakibatkan sensai rasa dahaga.
b.      Anti Diuretik Hormon (ADH)
ADH di bentuk di hipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis dari hipofisis posterior. Stimuli utama untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan ekstrasel. Hormon ini meningkatkan reabsorpsi air pada duktus koligentes, dengan demikian dapat menghemat air.
c.       Aldosteron
Hormon ini disekresi oleh kelenjar adrenal yang bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absopsi natrium. Pelepasan aldosteron dirangsang oleh perubahan konsentrasi kalium, natrium serum dan sistem angiotensin renin serta sangat efektif dalam mengendalikan hiperkalemia.
d.      Prostaglandin
e.       Glukokortikoid

7.      Cara pengeluaran cairan
Pengeluaran cairan terjadi melalui organ-organ seperti :
a.       Ginjal
Merupakan pengatur utama keseimbangan cairan yang menerima 170 liter darah untuk disaring setiap hari. Produksi urine untuk semua usia 1 ml/kg/jam. Pada orang dewasa produksi urine sekitar 1,5 lt/hari. Jumlah urine yang diproduksi oleh ginjal dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron.
b.      Kulit
Hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf simpatis yang merangsang aktivitas kelenjar keringat. Rangsangan kelenjar keringat dapat dihasilkan dari aktivitas otot, temperatur lingkungan yang meningkat, dan demam. Disebut juga Insesible Water Loss (IWL) sekitar 15-20 ml/24 jam.
c.       Paru-paru
Menghasilkan IWL sekitar 400 ml/hari. Meningkatnya cairan yang hilang sebagai respons terhadap perubahan kecepatan dan kedalaman napas akibat pergerakan atau demam.
d.      Gastrointestinal
Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari gastrointestinal setiap hari sekitar 100-200 ml. Perhitungan IWL secara keseluruhan adalah 10-15 cc/kgBB/24 jam, dengan kenaikan 10 % dari IWL pada setiap kenaikan suhu 1 derajat celcius.

8.      Pengaturan elektrolit
a.       Natrium (sodium)
Merupakan kation paling banyak dalam cairan ekstrasel. Na+ mempengaruhi keseimbanagan air,  hantaran impuls saraf dan kontraksi otot. Sodium diatur oleh intake garam, aldosteron dan pengeluaran urine. Normalnya sekitar 135-148 mEq/lt.
b.      Kalium (potassium)
Merupakan kation utama cairan intrasel. Berfungsi sebagai excitability neuromuskuler dan kontraksi otot. Diperlukan untuk pembentukan glikogen, sintesa protein, pengaturan keseimbanagan asam basa, karena ion K+ dapat diubah menjadi ion hidrogen (H+). Nilai normalnya sekitar 3,5-5,5 mEq/lt.
c.       Kalsium
Berguna untuk integritas kulit dan struktur sel, konduksi jantung, pembekuan darah, serta pembentukan tulang dan gigi. Kalsium dalam cairan ekstrasel diatur oleh kelenjar paratiroid dan tiroid. Hormon paratiroid  mengabsorpsi kalisum melalui gastrointestinal, sekresi melalui ginjal. Hormon thirocalcitonin menghambat penyerapan Ca+  tulang.
d.      Magnesium
Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan intrasel. Sangat penting untuk aktivitas enzim, neurochemia, dan muscular excibility. Nilai normalnya sekita 1,5-2,5 mEq/lt.
e.       Klorida
Terdapat pada cairan ekstrasel dan intrasel, normalnya sekitar 95-105 mEq/lt.
f.       Bikarbonat
HCO3 adalah buffer kimia utama dalam tubuh dan terdapat pada cairan ekstrasel dan intrasel. Biknat diatur oleh ginjal.
g.      Fosfat
Merupakan anion buffer dalam cairan intrasel dan ekstrasel. Berfungsi untuk meningkatkan kegiatan neuromuskular, metabolisme karbohidrat, pengaturan asam basa. Pengaturan oleh hormon paratiroid.

9.      Masalah keseimbangan cairan
a.       Hipovolumik
      Adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES) dan dapat terjadi karena kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan sehingga menimbulkan syok hipovolumik. Mekanisme konpensasi pada hipovolumik adalah peningkatan rangsangan saraf  simpatis (peningkatan frekuensi jantung, dan tekanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormon ADH dan aldosteron. Hipovolumik yang berlangsung lama dapat menimbulkan gagal ginjal akut.

b.      Hipervolemi
Adalah penambahan/kelebihan volume CES dapat terjadi pada saat :
Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air.
Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air
Kelebihan pemberian cairan
Perpindahan cairan interstisial ke plasma

10.  Ketidakseimbangan asam basa
a.       Asidosis respiratorik : disebabkan karena kegagalan sistem pernapasan dalam membuang CO2  dari cairan tubuh. Kerusakan pernapasan, peningkatan PCO2 arteri di atas 45 mmHg dengan penurunan PH < 7,35.
b.      Alkalosis respiratorik : disebabkan karena kehilangan CO2­ dari  paru-paru pada kecepatan yang lebih tinggi dari produksinya dalam jaringan. Hal ini menimbulkan PCO2 arteri < 35 mmHg, PH > 7, 45.
c.       Asidosis metabolik : terjadi akibat akumulasi abnormal fixed acid atau kehilangan basa. PH arteri < 7,35, HCO3 menurun di bawah 22 mEq/lt.
d.      Alkalosis metabolik : disebabkan oleh kehilangan ion hidrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh. Bikarbonat plasma meningkat > 26 mEq/lt dan PH arteri > 7,45.

B.  NILAI-NILAI NORMAL

Jenis cairan dan elektrolit


Nilai normal dalam tubuh
-      Potasium [K+]
-      Sodium [Na+]
-      Kalsium [Ca2+]
-      Magnesium [Mg2+]
-      Fosfat [PO42-]
-      Klorida [Cl-]
-      Bikarbonat [HCO3]
3.5 – 5 mEq/L
135 – 145 mEq/L
8.5 – 10.5 mg/dl (4.5 – 5.8 mEq/L)
1.5 – 2.5 mEq/L
2.7 – 4.5 mg/dl
98 – 106 mEq/L
24 – 28 mEq/L







ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN  GANGGUAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
A.           PENGKAJIAN
1.  Riwayat keperawatan
§  Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral dan parenteral)
§  Tanda umum masalah elektrolit
§  Tanda kekurangan dan kelebihan cairan
§  Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan elektrolit
§  Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat mengganggu status cairan
§  Status perkembangan seperti usia atau situasi sosial
§  Faktor psikologis seperti perilaku emosional yang mengganggu pengobatan

2.  Pengukuran klinik
§  Berat badan : kehilangan / bertambahnya berat badan menunjukkan adanya masalah keseimbangan cairan :
     +/- 2 % : ringan
     +/- 5 % : sedang
     +/- 10 % : berat
§  Pengukuran berat badan dilakukan setiap hari pada waktu yang sama.
§  Keadaan umum : pengukuran tanda vital seperti suhu, tekanan darah, nadi dan pernapasan. Tingkat kesadaran.
§  Pengukuran pemasukan cairan : cairan oral (NGT dan oral), cairan parenteral termasuk obat-obatan IV, makanan yang cenderung mengandung air, irigasi kateter atau NGT.
§  Pengukuran pengeluaran cairan : urine (volume, kejernihan / kepekatan), feses (jumlah dan konsistensi), muntah, tube drainase, IWL.
§  Ukur keseimbanagn cairan dengan akurat : normalnya sekitar +/- 200 cc.

3.  Pemeriksaan fisik
§  Integumentum : keadaan turgor kulit, edema, kelelahan, kelemahan otot, tetani, dan sensasi rasa.
§  Kardiovaskuler : distensi vena jugularis, tekanan darah, hemoglobin, dan bunyi jantung
§  Mata : cekung, air mata kering
§  Neurologi : refleks, gangguan motorik dan sensorik, tingkat kesadaran
§  Gastrointestinal : keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntah-muntah dan bising usus


4.  Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan elektrolit, darah lengkap, PH, berat jeins urine dan analisis gas darah.

B.            DIAGNOSA KEPERAWATAN
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan ketidakseimbangan cairan tubuh antara lain:
1.    Deficit volume cairan b.d. kehilangan volume cairan secara aktif, kegagalan mekanisme pengaturan.
(Penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intrasellular. Ini mengarah ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium)
2.    Kelebihan volume cairan b.d. kelebihan intake cairan, kompensasi mekanisme pengaturan.
(Retensi cairan isotomik meningkat)
3.    Risiko deficit volume cairan.







DAFTAR PUSTAKA.

  1. Towarto, Wartonal. 2007. Kebutuhan Dasar & Prose Keperawatan. Edisi 3. Salemba Medika. Jakarta.
  2. Alimul H, A Aziz. 2006. Pengantar KDM Aplikasi Konsep & Proses Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.
  3. Elis J.R, Nowlis E.A. 1985. Nursing a Human Needs Approach. Third Edition. Houghton Mefflin Company. Boston.
  4. NANDA, 2002, Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications.
  5. North American Nursing Diagnosis Association. 2001. Nursing Diagnoses : Definition & Classification 2001-2002. Philadelphia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar